Arini jatuh cinta (Part 1)

August 4th, 2006 by blankdakruz

Arini jatuh cinta!
Bagaimana bisa? Dengan siapa? Kapan? Dimana ketemunya? Dan sederet pertanyaan lain yang ada di benak Karina. Bukan hal yang aneh jika Karina berpikiran seperti itu, ia tahu sendiri sahabatnya itu tidak mudah jatuh cinta. Jangankan jatuh cinta, melirik cowok saja jarang. Dan kadang, ketidak-pedean Arini membuat ia enggan memupuk rasa suka. Biasanya ia akan membiarkannya pergi begitu saja. "Mumpung belum lama sukanya. Dia kayaknya ga bakal suka ama aku", ucap Arini suatu ketika ia naksir cowok. Namun kali ini, Arini bisa mendeklarasikan bahwa ia sedang jatuh cinta. Karina hanya melongo mendengar sahabatnya curhat di telpon.

"Cowok mana, Arini?", tanya Karina
"Hm… aku ga mau bilang, deh. Ntaran aja kalo udah pasti", jawab Arini polos, malu-malu, dan tanpa dosa
HEH?!, batin Karina … PASTI?!, apa maksudnya?
"Mo jadian maksudnya?", tanya Karina dengan nada yang super penasaran
"Hm… ga juga sih. Ah, ntar aja deh dikasih taunya", Arini ngeles

Karina heran.
Ck ck ck. Berarti mereka berdua sedang dalam tahap pendekatan serius. Buktinya aku mesti nunggu kepastian. Hm… kira-kira siapa ya cowoknya?

Dipikirkannya nama-nama cowok yang kira-kira ada hati dengan Arini, ada kemungkinan dengan Arini, dan ada kenalan ama Arini.

a. Nugraha
Ga mungkin! Nugraha udah pindah keluar kota. Arini ga mungkin jatuh cinta ama orang yang ada di kelas sebelah. Apalagi ini ada di kota sebelah. CORET.

b. Agus
Ada kemungkinan! Agus masih sekelas. Terus kenalnya juga udah dari jaman SMP. Jadi kalo diitung-itung, Arini udah kenal dia 6 tahunan. Anaknya lucu, baik, ga jelek juga. SEKELAS juga. Hm.. bisa. MASUK.

c. Danang
Mungkin juga! Danang kan orangnya diem. Bisa aja dibalik kediemannya, terdapat keberanian mendekati Arini dan mengungkapkan perasaannya. MASUK.

Dari semua cowok itu, hanya ada dua yang bisa tetap di daftar. Tapi Karina masih belum tau siapa cowok yang dimaksud Arini…

==to be continued==

Arini, tanpa Karina

August 2nd, 2006 by blankdakruz

Tidak biasanya tidur pakai kaos kaki di musim panas seperti ini. Tapi semalam rasanya kaos kaki ingin menjadi bagian ritual manusia. Ya sudah, dipake saja. Toh tidak ada salahnya menambahkan satu item lagi. Tidak mengganggu.

Diangkat selimutnya, mendekati dirinya. Bisa ia rasakan dinginnya kain yang membungkus selimut itu. Dibiarkan saja. Toh nanti juga akan bertambah hangat, kata orang, panas tubuh tidak bisa keluar karena ditangkap oleh selimut. Jadi dia biarkan saja selimut dingin itu menemaninya.

Hujan seperti ini, malam seperti ini, merupakan hal yang jarang. Apalagi dengan beberapa kilatan petir menyambar sebelum ia menutup korden kamarnya. Hanya petir. Nampaknya mendung tertutup gelapnya malam. Beruntunglah, ia tak harus melihat mendungnya langit. Ia kurang suka langit mendung. Ia suka berkeluh kesah jika langit mendung. Mungkin itu sebabnya Arini tak pernah suka Jakarta. Karena langit Jakarta tidak biru.

Ditemani lagu pengantar tidur, Arini berdoa sebelum tidur. Harus itu. Ia selalu dibiasakan untuk berdoa sebelum tidur. Ia takut tidak lagi bangun setelah tidurnya. Dulu ia sering mimpi buruk, dan berpikirlah ia, mungkin itu karena ia tidak berdoa sebelum tidur. Lalu ditambahkannya doa sebelum tidur. Satu surat panjang ia baca sebelum tidur, plus doa sebelum tidur, plus Ayat Kursi. Ia ingin benar-benar yakin jika ia mati dalam tidurnya, setidaknya ia sudah menyebut nama ALLAH SWT sebelum tidurnya. Ia pernah sangat ketakutan.

Di luar masih hujan. Namun Arini tak mendengarnya lagi. Setelah berdoa, ia memikirkan apa saja yang telah ia lakukan hari itu. Macam-macam. Sejak bangun tidur, belajar, main game, telpon Karina, baca buku, nonton tivi, dan seabreg kegiatan lainnya. Ia lelah hari ini. Cukup untuk menutup hari ini dengan tidur. Beristirahat.

Dipejamkannya matanya dengan syahdu. Damai merasuk di dadanya. Ia ingin beristirahat hari ini. Untuk mulai hari depan yang masih menunggu. Penuh dengan tantangan. Besok ya. Besok saja. Hari ini cukup lelah.

==Gelap, lelah, hanya ingin beristirahat== 3 kata itu yang ada di pikirannya…………………..

Arini - Karina

July 31st, 2006 by blankdakruz

Kadang to pretend memang lebih mudah daripada mengatakan hal yang sebenarnya. Tapi kadang hal itu terlalu banyak untuk bisa diterima akal dan hati. Arini sudah tidak bisa tahan lagi dengan kepura-puraan Karina. Karina sudah tidak bisa disebut sebagai sahabat. Kata-kata Karina sudah tak lebih dari lip service. Hanya kata-kata pemanis. Percuma.

"Mungkin dulu aku bisa kamu bodohi, tapi sekarang tidak lagi. Aku bukan orang bodoh yang bisa kamu kibuli lagi", Arini suatu hari mengatakan pada Karina lewat telpon
"Aku harus bilang apa, Arini sayang?", ujar Karina mencoba merayu sahabatnya
"Ya aku enggak tau. Bilang kek, bilang yang jujur. Ga usah boong lagi deh. Ga usah bilang kalo aku masih seksi, masih menarik, dan masih cantik"
"Loh, aku ga pura-pura. Kamu emang seksi, emang menarik, dan emang cantik. At least dari pandanganku. Kamu kenapa sih?"
"Aku tau kamu pura-pura, Karina"
"Aku ga pura-pura"
"Kamu pura-pura"
"Enggak!"

Percakapan over the phone itu cuman bikin Arini makin sedih. Kepura-puraan sahabatnya membuat dia makin sedih. Masalahnya adalah, Arini jadi punya the wrong idea tentang body imagenya. Arini yang selalu ngerasa bahwa dia adalah cewek seksi, cantik, dan menarik. Dan itu semua karena Karini selalu bilang bahwa dia adalah cewek yang seksi, cantik, dan menarik. Body image Arini ditentukan oleh pendapat sahabatnya. Sampai pada suatu ketika..

Arini iseng-iseng browsing tentang Body Mass Index. Coba lah dia masukin angka-angka tinggi dan berat badan. Ditulis. 60 kg - 155 cm. Keluar BMInya. 25.

Browsing lagi. Asian Body Mass Index. Untuk orang Asia, BMI 23 adalah sudah overweight!
ARGH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
TIDAK!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Arini tidak terima. Tidak terima. Dicek lagi. Browsing lagi. Semua juga bilang gitu. Orang Asia sudah dikategorikan overweight ketika udah mencapai BMI 25. Tidak seperti orang Western, yang 25 adalah angka overweight, Arini sudah GENDUT!

Tidak terima!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

"Tapi selama ini kamu bilang kalo aku seksi, montok, cantik, menarik, pinter, lucu", isak Arini ke Karina
"Iya, kamu kayak gitu", jawab Karina
"Enggak, kata internet enggak", masih menangis
"Ooh…", jawab Karina menyerah

Karina emang lebih ga peduli dengan berat badan. Dia lebih peduli dengan kepribadian dan gimana cara orang membawa diri. Dia lebih peduli dengan 3B. Brain, Beauty, Behaviour. Dia peduli dengan Health dibanding Wealth. Dan si Arini udah olahraga kok. Weight bukan menjadi issue yang penting buat Karina. Selama masih diliat oke-oke aja, en ga males alias jadi couch potato, masih fine-fine aja buat dia. Kalo emang Arini rada gendutan, iya emang sedikit chubby, but healthy.

Orang tuanya emang gendut-gendut. Dan Arini emang butuh seseorang yang bisa meyakinkan dia bahwa she’s fine, she’s doing all right. Body image nya sebagai orang yang keturunan gendut, selalu ngerasa bahwa dia gendut. No matter how much she weight. That’s not good.

Karina ambil inisiatif buat telpon Arini.

"Arini, ketemuan yuk"
"Kenapa? Mo ngomong yang pura-pura lagi?", Arini cuman bisa ketus
"Udah deh. Di rumahku, jam 4 sore. Kita jogging bareng lagi"
"Hm.. kenapa? Gara-gara aku tau bahwa aku overweight, sekarang ngajakinnya jogging, gitu?"
"Udah deh. Dateng aja"

Arini dateng. Bawa baju lengkap buat jogging. Emang selama ini dia jogging. Cuman ga intensif. Dia joggingnya kalo lagi mood aja. Tapi kan tetep jogging. Dia mikirnya.

Mereka lari ke daerah perumahan yang masih sepi. Masih banyak orang-orang yang lari-lari sore. Jogging sore. Ada ibu-ibu yang gendong anaknya. Ada juga bapak-bapak tukang bakso yang suit-suit ngeliatin cewek-cewek yang lagi mejeng. Ada bapak-bapak yang bolos kantor en lagi nongkrong di depan taman, ngeliatin ibu-ibu.

Karina ngomong ke Arini.
"Arini, salah deh ngeliat BMI itu kemaren", Karina mulai pembicaraan
"Iya, cuman ga bisa diganti lagi. Ya emang begitu"
"Iya, emang udah gitu. Ngerti. Yah tapi ga usah pake depresi-depresi gitu dong"
"Abisan, selama ini aku ngira bahwa aku masih normal-normal aja. Tapi ternyata overweight. Sedih dong Karina", Arini ngomong sambil jogging
"Iya, ya udah. Kita lari dulu. Baru ngomongin yang tadi"

Mereka jogging dulu. Ngeluarin keringet dulu. Biar seger.
Udah kira-kira jam 5-an, mereka stop. Beli teh botol sambil duduk ngelurusin kaki.

"Aku cuman ga ngerti deh Arini, kenapa sih penting banget"
"Ya iyalah penting. Aku ga suka overweight. Siapa sih yang suka overweight. Apalagi kamu pura-pura bilang ke aku kalo aku seksi, cantik, menarik, kapan itu kamu bilang kalo aku montok. Sedih", Arini bilang
"Loh, kan emang gitu. Semua itu kan relatif. Dan kalo aku bilang kamu seksi, ya emang seksi. Queen Latifah itu seksi. Seksi toh bukan hanya untuk orang-orang yang berukuran 1. Coba kamu lahir jaman-jaman Marylin Monroe, pasti kamu udah yakin kamu kamu seksi. Ya kan?"
"Tapi menurut BMI itu, aku overweight", Arini tetep protes
"Ya udah. Sekarang gini. Ada dua hal. Pertama, aku ga pura-pura tiap kali aku bilang kalo kamu cantik. Karena that’s the truth. Kedua, kalo emang ga mo overweight, olahraganya mesti lebih teratur. Kita mulai jogging kayak gini, pelan-pelan aja. Tapi terus ntar nambah lagi. Aku mau jadi personal trainer kamu"
"Yah tapi.. "
"Ga usah pake protes. Aku tau, dimana-mana mengeluh dan menyalahkan itu lebih gampang. Tapi kan bukan itu. Apa dengan mengeluh terus kamu jadi kurusan? Enggak kan? Apa dengan menyalahkan peristiwa browsing internet, kamu jadi lebih ideal beratnya? Enggak juga kan?"
"Iya….", Arini cuman pasrah. Capek karena jogging plus diem dengerin nasehat Karina

Mungkin Arini harus belajar untuk ga hanya melihat Body Image nya dari orang lain. Mungkin tiap kali dia butuh reassurance itu, dia harus ngeliat ke dirinya sendiri. Bukan dari omongan orang lain ke dia. Dan kalo emang ngerasa gendut, ya emang harus do something. Do something you like. Kalo ga suka fitness, ya ga usah maksa fitness. Kalo emang sukanya jogging, ya jogging aja.

Mungkin emang ga penting-penting banget obrolan kali ini. Mungkin Arini - Karina cuman ngeliat berat badan dari sisi yang berbeda. Tapi yang penting, gimana sisi yang berbeda itu bisa dibuat kombinasi, biar jadi oktagon kalo perlu. Tetap berbentuk.